29 June 2011

Untuk Adinda...


Pagi ini rasanya berbeda. Aku terbangun dari mimpi yang menghantarkanku pada khayalan tentang adik. 

Perempuan manis yang selalu berkata 'ya' pada Ibunda, yang acapkali menangis mendengarku 'berceramah'. Perempuan sholehah yang membuat batinku tenang karena aku tahu aku selalu dapat mempercayainya.
Perempuan muda nan tangguh yang selalu mampu menyisipkan perasaan hati terdalamnya.

Adinda, itu namanya.



Hari ini, 29 Juni 2011, hari ke-226 aku pergi meninggalkannya.

Demi mimpi, asa, dan cita, aku menyimpan kesedihan karena perasaan kehilangan akan dirinya,
Aku kehilangan kejujurannya, kesabarannya, kebahagiaan karena mampu menyaksikannya tumbuh menjadi perempuan cantik nan mempesona.

Ia adalah pendengar setia yang tak pernah memaksaku untuk balik mendengarkannya.

Adinda adalah hartaku yang paling berharga setelah Ibunda tercinta.

Di dalam mimpiku, aku melihatnya dari kejauhan, tanpa Ia mampu melihatku.
Aku menyaksikannya berjalan bersama teman-teman terbaiknya, tersenyum bahagia dan sesekali tertawa.

Itulah Adinda, adikku, yang hanya membagi keceriaannya tanpa memberi kesempatan pada manusia lain di sekitar untuk mengetahui kesulitan dan hal yang Ia rasa.

Ia terlalu istimewa.

Jenjang enam tahun perbedaan usia kami membuatku kadang merasa jumawa terhadapnya.
Aku merasa lebih tahu, merasa selalu benar, dan mengesampingkan perasaannya sebagai manusia biasa.

Jarak lah yang menyadarkanku bahwa Adinda adalah hartaku yang berharga.

Berapa banyak perempuan berusia 17 tahun yang memiliki ketegaran seperti dirinya?
Aku bangga padanya, aku merindukannya.

Andaikata dunia telah mampu memuaskanku akan ambisi dan cita-cita,

Andaikata di hari esok, hari ke-227 perpisahanku dengan Adinda, aku telah meraih apa yang menjadi bagian dari perjalanan 7 bulan penuh perjuangan ini,

Andaikata Doraemon berbaik hati meminjamkan pintu ajaibnya untuk satu hari ini kepadaku,

Aku akan datang menemuinya, tak perduli durasi atau limitasi waktu.

Aku hanya ingin memeluknya dan mengatakan padanya, "Uni rindu, Adinda."

Adinda Afifa Putri, adikku satu-satunya, karunia dari Tuhan untukku,
Suatu hari nanti, ketika dirimu menjalani kehidupanmu yang kamu pilih sendiri,
Uni harap Dinda akan menyadari, bahwa Dinda tidak sendiri.

Aku dan kamu adalah satu.
Aku dan kamu adalah harta yang paling dicintai Ibunda.
Aku dan kamu adalah mimpi yang tertunda.

Mari terus bermimpi, Adikku.
Seperti aku yang terus bermimpi akan hari itu,
Hari dimana aku dan kamu memeluk Ibunda di sofa rumah kita bersama.
Karena kita adalah satu...

ps: Di dalam salah satu email yang adikku kirim kepadaku di bulan Maret 2011 silam, Ia menulis,

"Ni, jangan tinggalin Dinda.."

Pada hari itu aku berjanji pada diri sendiri, bahwa semua pengorbanan ini akan kutebus dengan manis. Aku tidak akan membuang waktu dengan percuma. 

29 Juni 2011, 11:14am.

Untuk Adinda, adikku tercinta,


Nini Afie di Lima
:)

3 comments:

Anonymous said...

so sweat.........pengen nangis bacanya.....



ilove you nini....i love you dinda muaaaaaaahhhhhhhhh

harsya said...

mantap fi

Anonymous said...

I am crying.. Semangat ya Afie! Jadilah yang terbaik :) *Hugs

Dhila