12 February 2015

The Night With Professor Shiller and Great Depression


It have not been easy for people who live in some parts of Jakarta on these past days with floods and restless nights. I may not particularly suffer from this annual tragedy, but my heart goes with all who does. 

Speaking about catastrophe, I recently read the article written by the 2013 Nobel laureate in economics, Professor Robert J. Shiller from Yale University : What Good Are Economists? 

I put some excerpts here : ..Indeed, economists failed to forecast most of the major crises in the last century, including the severe 1920-21 slump, the 1980-82 back-to-back recessions, and the worst of them all, the Great Depression after the 1929 stock-market crash. But this criticism is unfair. We do not blame physicians for failing to predict all of our illnesses. Our maladies are largely random, and even if our doctors cannot tell us which ones we will have in the next year..

I recommend you all to read the rest of it directly on the Project Syndicate's page here.

After finishing the article, I randomly browsed about Douglas Irwin and his published works about Great Depression. Interestingly, I ended up looking through pictures I found along the way while surfing the world wide web. Picture does speaks louder than words

Take a look by yourself. I got it all from Google.










Was this real?!

Bankrupt investor Walter Thornton tries to sell his luxury car in New York following the 1929 stock market crash (Source : The Guardian)



Thanks to Professor Shiller, now let me open my Niall Ferguson's The Cash Nexus again.

07 February 2015

Deglobalisasi, Politik Budi, dan Memajukan Indonesia


Tulisan peneliti senior dari CFR (Council of Foreign Relations), Joshua Kurlantzick, berjudul 'The great deglobalizing: Our interconnected world is shrinking back toward its national borders- and that's a problem,' terasa menggugah untuk menjadi bahan pemikiran terkait posisi Indonesia di panggung global (dan juga di negeri sendiri). Disebutkan Kurlantzick, bahwa dunia kembali pada fase 'deglobalisasi' dimana tingkat perdagangan lintas batas menurun, rendahnya inovasi untuk mengangkat kembali dunia usaha dari kelesuan paska krisis 2008, yang kesemuanya disimpulkan dalam tulisannya sebagai akibat dari peningkatan persoalan domestik masing-masing negara yang membutuhkan porsi fokus sangat besar dari pemimpin-pemimpinnya. 


Boston Globe's "The Great Deglobalizing" by Joshua Kurlantzick


Kenyataan yang kita ketahui bersama memang demikian adanya. Mulai dari Presiden Dilma Rousseff yang tengah disorot karena skandal korupsi di tubuh perusahaan minyak negara, Petrobas, yang dikutip CNN dari media-media Brazil, sebagai 'the biggest corporate scandal in the history,' masyarakat Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) yang mulai jengah dengan persoalan imigran Syria sehingga memunculkan gelombang protes dan kini terang-terangan menolak masuknya imigran baru ke tanah mereka, atau di kota yang identik dengan keindahan dan kenyamanan hidup, Paris, tewasnya jurnalis, ilustrator, serta seorang ekonom dari koran humor Charlie Hebdo pada awal Januari silam membangkitkan apa yang sempat marak disebut dengan 'Islamophobia' dan berimbas pada pengetatan regulasi terkait imigrasi Perancis dan Eropa secara keseluruhan.

Pemimpin dunia semakin 'ditantang' oleh keadaan untuk mampu berperan ganda, aktif di dalam negerinya sendiri serta tentunya di panggung dunia yang semakin terasa 'tipis' berkat kehadiran media sosial seperti twitter dan instagram.

Tantangan ini juga turut dirasakan Presiden Jokowi yang kini jelas-jelas sedang diuji kepemimpinan dan decision making skill nya oleh satu kata yang sering didengar rakyat Indonesia sejak dulu : Budi. Kali ini, Budi yang 'ini' berkonotasi lain. 


Pencalonan Kapolri yang menimbulkan keriuhan publik

Budi Gunawan telah berhasil mendapat tempat utama di ruang media Indonesia terkait pencalonannya sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Yang membuat posisinya berbeda dibandingkan pada saat pencalonan Kapolri sebelumnya, adalah, ia calon Kapolri pertama dalam sejarah kepolisian republik ini, yang merupakan tersangka kasus korupsi. Fakta lain, meskipun sebagai tersangka kasus korupsi, DPR RI tetap memuluskan pencalonannya. Keputusan terakhir ada di tangan Presiden yang mengangkat dan memberhentikan Kapolri serta kepada siapa Kapolri bertanggungjawab di mata undang-undang. Dan pada titik ini lah, Presiden Jokowi dihadang permasalahan. 

Secara umum, polemik yang dihadapi pemimpin yang didukung partai politik, sama dan akan selalu sama, yakni mengamankan keputusan dan arahan partai pendukungnya dan di saat yang bersamaan juga mendengarkan aspirasi rakyat yang heterogen. Layaknya Presiden Jokowi yang menghadapi kenyataan bahwa partai pendukungnya, PDI Perjuangan, mendukung penuh pencalonan Budi Gunawan sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri). Di samping itu, dukungan DPR dalam pencalonan Budi Gunawan menjadi bentuk tekanan tersendiri. 

Sebagai respon atas keadaan yang berlangsung, suara masyarakat semakin lantang menolak pencalonan Budi Gunawan. Sepuluh hari berselang sejak KPK menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka, pihak kepolisian menangkap wakil ketua KPK untuk persoalan bertahun-tahun lalu yang dipandang publik sebagai alasan 'yang dicari-cari.' Ironis. Satir. Lucu dan memuakkan pada saat bersamaan.

Semakin banyak yang menanti keputusan tegas Presiden Jokowi atas permasalahan ini. Tokoh-tokoh meminta Budi Gunawan untuk legowo mengundurkan diri demi kemaslahatan bersama. Hampir semua opini yang ditulis tokoh-tokoh pro-KPK di surat kabar maupun media sosial, meminta Presiden Jokowi memperjuangkan KPK dari kriminalisasi. 


Photo : Tempo.co


Keadaan simpang siur politik dan hukum seperti ini tentu merugikan. Di masa serba cepat sekarang, dalam hitungan detik berita menyebar ke segala penjuru dunia. Kegaduhan nasional yang sedang dihadapi Indonesia perlu dilihat bukan hanya dari sudut pandang 'pelanggaran hak rakyat dan keadilan sosial' (yang tentunya paling penting), namun juga 'upaya menyelamatkan wajah bangsa di mata dunia.' Tidak dapat dibayangkan apabila Budi Gunawan tetap diangkat menjadi Kapolri, bagaimana masyarakat global melihat wajah penegakan hukum di negeri ini?

Dalam melihat persoalan pencalonan tersangka kasus korupsi, Budi Gunawan, sebagai Kapolri ini, saya menggunakan dua cara pandang :


Pertama : Perspektif Hukum

Untuk menilai kondisi dilematis penuh konflik proses pengangkatan Kepala Kepolisian Republik Indonesia dari kacamata regulasi hukum, tentu menggunakan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. 

Pada Bab I 'Ketentuan Umum' dan Pasal 1 ayat 5, dijelaskan tentang apa yang dimaksud dengan 'keamanan dan ketertiban masyarakat,' yakni :
"...suatu kondisi dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan nasional dalam rangka tercapainya tujuan nasional yang ditandai oleh terjaminnya keamanan, ketertiban, dan tegaknya hukum, serta terbinanya ketentraman, yang mengandung kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam menangkal, mencegah, dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan masyarakat."
Di Pasal 1 ayat 7, disebutkan :
"Kepentingan umum adalah kepentingan masyarakat dan/atau kepentingan bangsa dan negara demi terjaminnya keamanan dalam negeri."
Adapun yang dimaksud dengan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, adalah pimpinan Kepolisian Republik Indonesia dan penanggungjawab penyelenggaraan fungsi kepolisian (Pasal 1 ayat 14). 

Di dalam Pasal 2 disebutkan bahwa fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. 

Dengan menggunakan pasal-pasal awal dari Undang-undang kepolisian ini, Budi Gunawan dan konfliknya dengan KPK, telah dapat memenuhi faktor 'menimbulkan keresahan masyarakat.' Seorang calon pemimpin tertinggi institusi Kepolisian diharapkan dapat menjadi sosok yang menghadirkan rasa aman di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, bukan sebaliknya. 

Tentu rakyat tidak akan menerima apabila pemimpin Kepolisian adalah tersangka kasus korupsi. Terlebih lagi, pernyataan-pernyataan yang muncul, seperti dari Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdijatno, "KPK Bukan Dewa," yang dimuat Majalah Tempo (19 Januari 2015), semakin mengesankan memojokkan KPK sebagai institusi negara yang sah dan berwenang dalam memproses dan menindak kejahatan korupsi di Indonesia. 

Memang KPK belum tentu benar dan tidak akan pernah selalu benar. Begitu pula dengan Budi Gunawan. Menentukan siapa yang benar itu lah, yang memerlukan proses panjang. Selama kebenaran itu belum disahkan oleh putusan hukum yang in kracht, maka belum ada yang dapat merasa benar dan menuduh yang lainnya tidak benar. 


Kedua : Perspektif Politik 

Di dalam bukunya, 'Politik Antarbangsa,' pemikir dan profesor ilmu politik Jerman, Hans Morgenthau, menjelaskan tentang politik dan hubungannya dengan kekuasaan :
"Kalau kita berbicara tentang kekuasaan, yang kita maksudkan adalah pengendalian manusia atas pikiran dan tindakan orang lain. Kekuasaan politik merupakan hubungan psikologis antara pihak pelaksana dan pihak yang terkena. Kekuasaan politik memberikan kepada pihak yang disebut pertama pengawasan atas tindakan tertentu oleh pihak yang disebut terakhir, melalui dampak yang diakibatkan pihak pelaksana atas pihak yang terkena. 
Pengaruh itu berasal dari tiga sumber : harapan akan keuntungan, rasa takut akan keadaan yang merugikan, dan rasa hormat atau kasih sayang kepada manusia atau lembaga. Kekuasaan itu dapat pula digunakan melalui perintah, ancaman, wewenang atau karisma orang atau jabatan atau gabungan dari mana saja." 
Dalam keadaan dimana masyarakat meminta ketegasan dari Presiden Jokowi terkait Budi Gunawan dan statusnya sebagai calon Kapolri, pandangan umum secara cepat melihat adanya peran besar Megawati sebagai Ketua Umum Partai PDI Perjuangan, pendukung Jokowi selama ini. Semasa Mega menjadi Presiden RI, Budi Gunawan adalah ajudannya. Tentu tak sulit untuk masyarakat menyimpulkan bahwa 'restu Megawati bermain sangat penting disini.' Siapapun tentu dapat berasumsi. Adalah kemampuan Jokowi sebagai pemimpin, yang benar-benar diuji dalam keadaan sekarang ini. 


Megawati dan Budi Gunawan (Tempo.co)

Teori Morgenthau menyebutkan adanya elemen 'pengendalian manusia yang berkuasa kepada manusia lain' dalam proses politik praktis. Selama ini, Megawati tidak mengekspresikan secara vokal apa yang menjadi arahannya dalam kasus Budi Gunawan ini. Namun sikap partainya sangat jelas. Menggunakan alasan 'nurut di dalam politik' versi Morgenthau, maka kelak masyarakat akan dapat melihat, alasan apa yang menjadi dasar dalam keputusan yang diambil Jokowi. Apakah harapan akan keuntungan, rasa takut kepada keadaan yang merugikan, atau kasih sayang kepada rakyat (manusia) dan negara (lembaga). 

Sumber : Google search


Back on Track

Kita tidak dapat berlama-lama dan beramai-ramai menuntut kejelasan situasi politik negeri kepada Presiden Jokowi sebagai pemimpin negara. Kenyataan memperlihatkan, kita berada di antara satu pilihan : maju ke depan dan bersaing. Bukan sebatas diam di kubangan politik dalam negeri, namun dalam modernitas globalisasi. 

Opini Joshua Kurlantzick yang dikutip di awal, seakan meninggalkan satu poin penting : perubahan di era saat ini bukan lagi berada di tangan-tangan mereka yang duduk pada pertemuan level tinggi seperti World Economic Forum di Davos atau rapat menteri di Nusa Dua, Bali. Kebijakan perdagangan dunia memang tetap 'dikuasai' WTO dan kroni-kroninya sesama organisasi Bretton Woods. Namun tidak ada yang tidak mengenal atau mendengar kisah Steve Jobs dan inovasinya yang lahir dari dalam garasi.

Kreativitasnya melampaui batas teori, dogma dan retorika. Saya rasa Jobs dan partnernya, Wozniak, tidak fokus menghujat kasus-kasus politik, korupsi, atau apapun pada saat mereka berkolaborasi hingga akhirnya melahirkan apa yang kita kenal dengan 'the greatest innovation tale of all time.' Mungkin anak-anak dari Budi Gunawan atau siapapun politisi Senayan yang sibuk berbicara tentang 'Jokowi harus segera memberi kejelasan masa depan,' adalah konsumen-konsumen produk Apple yang dilahirkan Jobs dengan kalimat menggugah, "here's to the crazy ones, the misfits, the rebels, the troublemakers, the one who see things differently."

Deglobalisasi, apapun maknanya, sepatutnya dipandang sebagai bentuk peringatan. Bahwa persoalan politik (atau segala persoalan domestik) yang berlarut-larut, akan mematikan kesempatan-kesempatan berharga untuk kemungkinan-kemungkinan baru di masa depan. Ketegasan Presiden Jokowi menolak tersangka kasus korupsi untuk menjadi Kapolri, berarti menciptakan kesempatan generasi muda Indonesia untuk percaya bahwa 'masih ada harapan untuk tumbuh di negeri ini.' Bahwa kemajuan dan kehebatan ala Sillicon Valley, Amerika, dapat pula tercipta di sini. Masih ada harapan untuk persaingan yang sehat (healthy competition).

Presiden Jokowi dapat pula menjadi pihak yang berjasa untuk Indonesia dengan tidak melupakan urgensi pemerataan pendidikan, masuknya internet tanpa batasan, serta penguatan sektor kewirausahaan di samping aspek-aspek penting lainnya. Dengan semakin terdidiknya pemuda-pemudi Indonesia yang mahir berinteraksi dalam fase ICT seperti sekarang ini dan berpikir sebagai kreator industri (tak lagi sebatas pekerja), bukan tidak mungkin the misfits, the rebels, the troublemakers who see things differently di Indonesia, akan membawa perubahan signifikan. Bukan hanya di panggung politik, namun pada persaingan ekonomi global yang dimulai dari kemandirian ekonomi bangsa. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang bangga pada kemampuan dirinya sendiri. Selama bangsa Indonesia masih memuja segala macam produk, merk, hingga sosok asing, maka selama itu pula kita akan terus kehilangan dan menggerus identitas kita sendiri.

Mari berpikir dalam konteks yang lebih luas, dan biarkan pihak-pihak egois pemuja kemegahan, materi dan jabatan, bernaung di antara mereka-mereka sendiri. Leave the stupidity behind and keep going. Toh Bung Hatta, salah satu sosok pemimpin terbaik yang pernah dipunyai negeri ini, pernah berkata :
"Keadaan obyektiflah yang menentukan sikap manusia. Sebab itu, sejarah tak hanya bergantung pada segelintir manusia."
"Perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan bangsa sendiri"
(Bung Hatta)
Sumber : Google Search

Dengan atau tanpa Budi dan kawan-kawannya, untuk Indonesia yang lebih baik, mari maju bersama-sama memajukan Indonesia. Mari percaya, mari!

Catatan :

1) Tulisan ini adalah pemikiran pribadi, tanpa latar belakang dukungan atau hujatan pada pihak manapun;
2) Penulis adalah warga negara Indonesia, individu yang merdeka dan percaya pada kemerdekaan berpendapat;
3) Pandangan, masukan, apapun, silahkan dilayangkan ke email pribadi penulis : ayunda.afifa@gmail.com

Mari kembali pada tulisan dan bacaan yang menghidupkan semangat berjuang kolektif. Menulis untuk membangunkan pemuda-pemudi Indonesia, yakni kita semua. Untuk mencintai ilmu dan kemandirian berpikir. Hidupkan kembali jiwa Soekarno, Hatta, dan rekan-rekannya. Bahwa maju, berarti menyatu dan berpadu dalam sisa-sisa waktu :)

04 February 2015

Montesquieu #quote



After having myself confined for about a year from any writing works published, I finally acquaint myself back to the literary supplies. The edifice that surround this was simply because the amount of time I have last year, tormented by the thing called 'job.' 

With my new 'job' right now, I am free to read as much as I want. Well actually, as a freelance researcher, that's why I got paid. To read and to write. Heaven. 

Meanwhile, today with Montesquieu. 

31 March 2014

Behavioral law : Why we should talk about it deeper than before


So it was true. 

When we try to start doing things all over again, after long hiatuses or pauses, we outrageously bias about how, when, and where to start. In my case, thanks to Professor Robert H. Frank from Johnson School of Management, Cornell University, after reading the introduction to his Economic Naturalist's book, I decided to start writing my Paradigmafifa's blog again. Why? Professor Frank's simple approach to questioning the reasons behind everyday-human-behaviour, has intellectually seduced me to think deeper about it. About human, about their natural egoism, about their ambition for goals and other things that mostly valued in terms of money, about law as a means to an end, and also about me: as what I tend to believe myself 'an irrational human.' 

My interest at the behavioral economics/finance has long been started from the moment where I encountered Professor Shiller's (Yale University) video on Youtube. He famously known for his research about behavioral finance, the knowledge that brought him winning the Nobel Prize in Economics, back in 2013 (just last year). Before that, I also learned to read piece of stories about the financial crisis in 2008, from where I learned that the most certain thing in life, is the uncertainty." In other words, "uncertainty is the only thing that we must be certain about." 

Let me give one true example : In his highly praised book, 'Too Big to Fail,' Andrew Ross Sorkin provided us with complete explanations back to the doomsdays  for Wall Street bankers in 2008. In the beginning, he showed the readers about how Richard S. Fuld, Jr, the chairman of Lehman Brothers, shouted confidently, "who says we're going bankrupt?" just hours before the company did so. Human may predict the incoming situation, but did they have 100% assurance about how big or small their prediction will be about to happen?

If we all were growing up knowing that the financial system is something that we can learn and predict and then solve, I do think for now, no one (should) buy that myth anymore. We can't be so sure about something that lies far from our reach. What I see more important within this system, in a place where human races into each other to get more and accomplish more than anyone else is: the importance of law and its effect to the system. 

The basic concept of my conclusion is that, 'human tends to react freely when there is no law.' In reality, nobody knows where the law is. Do not tell that 'law is where the police officers are standing,' because those officers could be just symbol for the law institution where they work and got paid to stand all day in a street or some small kiosk in this country. Growing numbers of high rank police officers who got convicted for corruptions or any other crimes, proving that law does not always lies with the enforcer(s). They all are human, they all are irrationals too. 

So I keep questioning again : If law is too abstract, then how could we rely on the law as a system to abolish crimes and human wrongdoings? 

I propose one suggestion : Make law openly. This is such a joke for many of us, I am pretty sure about that, but there's no harm in suggesting crazy ideas to the societies. Especially when the crazyness comes from the idea to make life better :)

Humans are:
Egoist, 
Competitive,
Ambitious,
...and many other million adjective words we could identify ourselves with.

but,

Humans also are :
Craving for acceptance,
Acknowledgement,
Friends,
Loyalty,
...and other reason that simply explain  'human is a human in the end.'


We need to enter the era where legal system should be openly well-connected with two other important systems in our daily life : economy and financial systems. Think about this : 

When governors or the leader of provinces commited to crime (corruption, as we're talking about Indonesia in general,) they hadn't only violated their promises to the people they serve (violating public law), but also hurting the area's development process (by corrupting the money which intendedly allocated for that matter). The possibility for the impact of this wrongdoing is much farther than that. By witnessing this, foreign investors could withdraw their bid for investing in the area, when they found out that the leader and the cronies are involved in the unhealthy scheme of public money embezzlement (where on the other hand, we know that investment will generate more income to the country).  

We should no longer classify law only as wide as 'criminal law' or 'civil law' or 'economic analysis of law,' and many other law studies' distinctions we could find in most law schools. Since they all deal with human, there should be more emphasis on analyzing the humans as the DO-ers inside the system. 

More deep research needed to answer the questions such as : why do human tend to corrupt or commit to economic crime when they are in power? Is it because the system give them the opportunity to do that or the human quality is simply devalues moral and trust? Should we blame the system which were made by other humans? Then how we should perceive law as a means to an end?

Until then, we should not define law as a means to an end, because so far, it is still become an end in itself.

18 July 2013

Marissa Mayer








¨I always did something I was a little not ready to do. That feeling at the end of the day, where you´re like, ´where have I gotten myself into?´ I realized that sometimes when you have that feeling and you push through it, something really great happens -CNN

21 February 2013

Memandang kritik akan paham kebebasan melalui sudut pandang seorang Rafael Correa


¨(Proses) pembangunan adalah laksana pelayaran kapal dengan jumlah kehancuran yang lebih besar dibandingkan para penunjuk arahnya.¨ 

Kutipan dari buku termasyur milik Eduardo Galeano, ´Open Veins of Latin America´ tadi sepertinya menjadi semacam ´pegangan´ bagi presiden Ekuador yang baru saja memenangkan pemilihan umum untuk ketiga kalinya, Rafael Correa. 

Dengan catatan 60% suara pemilih, Correa jelas-jelas membuktikan bahwa Ia tidak ingin hancur dan tersungkur. Dengan satu kali lagi kemenangan, Correa telah memastikan bahwa dirinya adalah penunjuk arah daripada ´kapal´ bernama Ekuador, yang telah dinakhodainya sejak tahun 2007 silam. Dan bagi seorang Rafael Correa, pembangunan adalah juru kunci keberhasilannya memenangkan posisi sebagai nakhoda yang bertahan. Ia terpilih karena telah berhasil membangun bangsanya, dengan caranya.

Di saat begitu ramainya gerakan yang dilakukan pemimpin-pemimpin Asia Tenggara dalam memanfaatkan paham liberalisasi ekonomi di segala aspek pertumbuhan bangsa, Correa memperlihatkan manuver yang sangat berbeda. Ironisnya, data Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang dikutip harian The Guardian menunjukkan: Kebijakan Correa telah berhasil menurunkan rasio kemiskinan Ekuador sebesar 32,4%. Mengapa ironis? Karena hasil tersebut didapatkan bangsa Ekuador bukan melalui kepemimpinan ala Obamanomics atau yang dipersekutukan para pengikut Milton Friedman dan Hayek yang selama ini dibenarkan oleh para pengamat ekonomi barat dan juga kroni-kroni media.

Kekayaan individu tidak dipandang sebagai parameter mengukur kekayaan bangsa. Correa tidak akan menciptakan keadaan si 1% melawan si 99% laksana kondisi global saat ini. Ia menciptakan pemerataan peruntukkan hasil ekonomi Ekuador, dari tanah bangsanya untuk seluruh anak bangsanya sendiri. Correa secara gamblang mengungkapkan pandangannya akan hal tersebut dalam pidato kemenangannya, dimana ia berujar, ¨We are only here to serve you. Everything for you, a people who have become dignified in being free.¨

Correa seakan mengerti bahwa bahkan masyarakat miskin pun berhak atas harga diri. 

Dan sebagaimana yang dipercayai Marx, Correa mengerti bahwa ¨(manusia) mendapatkan posisinya dalam kolektifitas sosial.¨ Ia tidak mengukur kekuatan ekonomi bangsa Ekuador melalui besaran tingkat konsumsi kelas menengah ke atas, melainkan dari pemenuhan kebutuhan seluruh warga tanpa terkecuali.

Paham perdagangan bebas, penyembahan pada demokratisasi, pemberian hak tanpa batas kepada para investor asing, pembenaran atas tak terbatasnya peluang perusahaan asing melakukan kegiatan pengerukan sumber daya alam, serta jalinan persahabatan erat dengan pemimpin negara maju, dipandang Correa sebagai pilihan yang tak absolut dalam hal proses membangun negara. Ia menerapkan kebijakan-kebijakan yang berkebalikan. 

Correa menyediakan akses mudah bagi seluruh warga negara Ekuador terhadap pendidikan dan layanan kesehatan, yang didapat melalui penambahan jumlah dana belanja negara. Ia tidak membagi kedua arena vital tersebut pada pihak swasta/privat. Begitu pula halnya dengan pemanfaatan sumber daya alam. Correa meminta penyusunan ulang kontrak karya perusahaan asing yang mengelola dan menguasai lini pemanfaatan hasil sumber daya alam Ekuador, dimana pemerintah (sebagai wakil dari seluruh bangsa Ekuador) tetap pemegang saham terbesar.

Peperangannya pada insan media Ekuador, dipandang oleh organisasi pembela hak asasi sebagai suatu kejahatan terhadap kebebasan berpendapat. Dokumen yang dirilis organisasi Human Rights Watch pada tahun 2011 menyatakan Presiden Rafael Correa telah secara jelas melakukan penyuburan pada kegiatan pembatasan hak jurnalis dalam melaporkan kebenaran. Terdapatnya elemen klausula ´desacato´ atau ´lack of respect´ dengan ancaman sanksi pidana tiga bulan hingga dua tahun, yang termuat di dalam kitab undang-undang hukum pidana Ekuador, dipandang sebagai peringatan tajam yang diperlihatkan Correa pada siapapun yang menujukan kritik terhadap kebijakan sang presiden. 

Ketidaksepahamannya dengan insan media dalam negeri, tidak cukup untuk menjadikan Correa sebagai bulan-bulanan para pemimpin negara barat. Keputusannya untuk melindungi Julian Assange, sang pendiri Wikileaks, dari ´kejaran´ pemerintah Inggris dan Swedia sejak bulan Agustus 2011, semakin mengukuhkan posisi Correa sebagai pemimpin yang tak sejalan dengan para pemimpin negara maju.

Terlepas dari segala pemberitaan media-media besar yang selalu menyudutkannya sebagai seorang pemimpin, Rafael Correa telah sekali lagi berhasil menunjukkan ironi yang mencengangkan tentang negara dengan paham anti kapitalisme, yang selama ini selalu dipandang sebagai negara miskin luar biasa yang terperangkap dalam alur kesengsaraan  tanpa adanya peluang atas perubahan. 

14 juta lebih rakyat Ekuador memilihnya kembali dalam kali ketiga, dan fakta tersebut bukan tak menyimpan arti.  

Arti kemenangan Correa yang sulit dimengerti para pemerhati politik dan ekonomi yang tak sepaham dengan Correa itu dapat dibahasakan dengan kisah lama dari negara tetangga, yakni milik jenderal Pedro Ferre, salah seorang perwakilan provinsi Corrientes di Argentina, yang diungkapkannya pada masa penjajahan di tahun 1830 seperti yang dikutip Sergio Bagu tahun 1949 dalam ´Economia de la sociedad colonial: ensayo de historia comparada de America Latina,´ berikut ini:

¨Yes, certainly a few wealthy men will be deprived of fine wines and liquors with their dinners. For the less well-off classes the differences will hardly be noticeable in the wines and liquors they now drink, only in the price, and consumption will go down, which is not a bad thing. Our country folk won´t wear English ponchos or carry British-made bolas and lassos; we won´t get clothing, and other things we can make ourselves, from abroad; but on the other hand, the condition of all the Argentine communities will begin to be less miserable and the frightful poverty to which we are now condemned will no longer pursue us.¨

Correa adalah pemimpin Amerika Latin yang dididik di bangku perkuliahan Amerika Serikat, namun mengerti letak perbedaan kebutuhan anak bangsanya dari penduduk negara lain. Ia menciptakan sistem pemerintahannya sendiri, bukan mengadopsi, terlebih menodai dengan menyembah sistem yang disuburkan para oligarkis. Seperti yang dipercayai Baruch Spinoza, ¨To understand, is to be free.¨ Maka untuk mengerti yang dibutuhkan oleh penduduk Ekuador, Correa membebaskan negaranya dari dikotomi-dikotomi. Membebaskan negaranya dari bentuk penyembahan-penyembahan, karena Ekuador adalah bangsa, bukan hamba sahaya.

Congratulation, Correa. Congratulation Ecuadorians. 
For your own version of freedom.


Depok, 21 Februari 2013.


ps: Tulisan ini terinspirasi dari tulisan milik @SeumasMilne yang dimuat The Guardian dengan judul, ¨Think there´s no alternative? Latin America has a few,´ tertanggal 19 Februari 2013. 

30 September 2012

On Writing and Being an International Correspondent, William Langewiesche



William Langewiesche - International Correspondent
of Vanity Fair

 (From Media Bistro´s interview with the American writer):

I, being young and naive myself, left my job and began to fly airplanes and to write, always writing. I wrote a bunch of stuff that was not published, and I continued to struggle. My goal was never to become a pilot. My goal was to, well, become exactly what I am now, interestingly enough. I failed at that for many years, but I was lucky because I had a skill which allowed me to stay dry when it rained.

I knew that there was this magazine world in New York, with lots of slick magazines, and I knew that I did not want write for those guys, so I never approached them. I thought I would rather fly airplanes than do that. I dont know why I had a strong aversion to it. I wanted to write serious stuff, long stuff, not fast stuff. I wanted to write with quality, both quality of thought and literary quality, and I knew I could not do that in that world.

One of the reasons my writing was not good enough when I was 25 years old was that my thinking was not good enough. One of the reasons my thinking was not good enough was that I was not old enough. I did not have enough experience. Why would a reader, a mature reader, an intelligent reader want to read the work of a 25-year-old at least on serious subjects? 

I try to understand what I´m seeing. There´s a stage I go through when I´m rubbing my eyes, and I can´t understand this world that I´m in now. I feel like I dont understand anything. I cant see anything. I start asking questions, and then I very much listen to people. I listen to people very carefully. When I´m on the ground, I´m working anywhere from 12 to 16 hours a day.

Writing is thinking. Writing is a form of thought. 

The real work is not done in places like Kinshasa or on the ground. The real work is done outside. What you are doing on the ground is trying to provide yourself with the resources  necessary to think about the subject clearly later on.

For complete interview, here.

19 September 2012

I´ve killed my TV

Manifesto 2010 (Source: Google)


Ever since I began to live in another part of the globe until I went back home with new perspective in life (including months allocated for reasonable hiatuses of thought), I´ve killed my TV. 

No kidding, I own none of that boxes since I finished college (2010), and never want to have it back in my life, again. Not that I dont want to correspond with the world through moving pictures, reportages, or a seemingly infinite number of fake faces, but I just have fallen in love deeper than ever to the world wide web. Plus, I take lots (more) advantages from the internet. 

I found the breaking news about some major world headlines (Bin Laden´s assasination, Assange´s hide and seek story on Ecuador´s embassy in London, or Kim K´s stupid-fake-days of marriage drama) from the internet first, not TV. Sorry for classifying Kardashian´s ironic incident to ´major world headlines,´ folks!

So sorry television. Sorry Philo Farnsworth.

But then what happened yesterday afternoon, was somehow revealing the long-time broken relations between me and the TV. Oh no, wait, it´s the media!

Short story: I went back to my place around 3pm, and a dorm-mate of mine greeted me with minutes of chit-chats about random stuffs. Then she invited me to come to her room where she had her TV on, showing us the infotainment (that´s how they call ´the show about the show off celebrities´) with the grand topic of the day : ¨The life of Jakarta´s Socialites Women.¨

First, I dont have any personal issue with social butterflies named ´socialites´ whatsoever. Well in truth, I had never even cared about their existence. In my opinion, even Margherita Missoni is indeed just a same human like another woman, like me. Well, we´re speaking about the very basic composition of human being, don´t we?

What strikes me the most from the show was nothing but one thing only: The overbearing pride evidenced by a superior manner from those 30 (or 40)-something self-acclaimed socialites. By telling the stories about how they regularly have ´arisan´ every month with 10 millions rupiah obligated to pay by each member (they have 30 members, fyi), or their love for diamonds, for the love of God, and their picture perfect brouhaha yacht private party in north Jakarta (Ancol) where these women amuse themselves with their laughs and never ending camera flashes on their sailor look alike costumes. 

Then here comes the ´important´ part of the show. The socialites stories about millions of millions prices of Hermes bags they bought, Chanel earings they purchased while vacationing in Paris, their Charlotte Olympia´s heels, and of course, their prideness for being a wife of public sector executives or business tycoons.

Sometimes it only takes a few seconds to hate a person. To label that person with such personal name like ´a total loser,´ ´a pain in the ass,´ et cetera, et cetera. 

For me, it´s way beyond that cheesy comments. It´s all about the missing link between the TV and the media provider. I  know there are different layers/segments of audiences out there in the real entertainment world. There are those who love news and news only, or those with tissue for tears during their TV series´ night time. Or those with sports and stuffs, and other more of them.

I think what I´d like to emphasize here, is as same as the statement I found on ´Freunde von Freunden´ journal: 

¨Immersion, interactivity, integration, impact, as discussed by media scholars and philosophers such as Vilem Flusser, Alexander Kluge and Niklas Luhmann since the last 60s, non-linear storytelling through hypermedia emphasized the reader´s role in the process of media consumption.¨

The role of storytelling, I believe is the most important role of TV media. There´s a thing called responsibility in an action of providing civil society with educating, curating the right words of choice for the show, because at some point most of the people would be weak in choosing. What they see is what they get in mind. And please, do not forget kids and their immitating acts. 

Showing the world about the abundance of wealth possesed by some spesific groups of people, is not a sin. In fact, I agree, it´s what information is all about. To spread words about the real pictures in life. 

Yes there are those who live with less than 2 dollars, and yes there are those who could spend 10.000 dollars for a day. It´s something we should realize and simply just accept the fact like the way it is. Not big deal.

But, what I would like to say to the TV media is nothing like a shallow critic from someone who live with freelance fee (ehem). Here´s what I want to say:

¨Dear media tycoons. With your money, with your strong ties to the ruling government, with your love for profits, with your power to reach talented talents around this country, with your ´act like you care for developments´ through your corporate social responsibility, and with your time for political participation in various parties, please try (even if it´s hard) to be your very own smart editor. Please curate your show. There are thousands-millions even-creative people in this world who´d love to work on that field (smart media movement). If you can´t help yourself from trashing people with trashy entertainments, just think of your kids and their future. At least.¨

Until then, I´ll be okay with no TV.

31 May 2012

Thanks, Keegan :)


¨You have a choice. Live or die. Every breath is a choice. Every minute is a choice. To be or not to be¨ -Chuck Palahniuk

Ini lah semacam sebuah pengakuan : Saya tidak pernah membaca buku karya Palahniuk, not even once. Namun saya penggemar pandangan-pandangannya menyoal hidup dan mati. Salah satunya adalah yang saya jadikan pembuka dari tulisan blog saya kali ini. 

¨Setiap manusia memiliki pilihan. Untuk hidup atau mati.¨

Saya percaya arti kata-kata tadi melebihi sekedar memilih untuk tetap hidup atau bunuh diri karena beragam alasan. Meski terkadang, di saat-saat terlemah, saya cenderung setuju dengan ungkapan termasyhur dari tokoh pergerakan Universitas Indonesia, Soe Hok Gie, ¨nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan,¨ namun pada akhirnya saya menyimpulkan: Soe dan setiap manusia yang menolak kehidupan, tak lain adalah mereka-mereka yang memilih menyerah. Dan dewasa ini, menyerah bahkan tak lagi menjadi suatu pilihan. 

Tulisan ini terinspirasi dari berita tewasnya mahasiswi Yale, Marina Keegan, 22 tahun, yang tewas dalam kecelakaan beberapa hari seusai upacara kelulusannya dari jurusan writing di salah satu perguruan tinggi Ivy League, berlokasi di New Haven tersebut. Ia dinyatakan tewas di tempat beberapa saat setelah mobil Lexus yang dikendarai kekasihnya menabrak sisi kanan pembatas jalan di Massachussets. 

The inspiring young Marina Keegan

Berita duka seperti ini mungkin dapat kita baca dan lihat di ragam media setiap saat. Manusia lahir dan berpulang hampir dalam kisaran setiap detik. Semacam kelumrahan yang telah menjadi bagian dari takdir alam. 

Namun berita duka tentang Keegan mengajarkan banyak hal, bahkan pada saya, yang terentang jarak dan tidak pernah sekalipun mengenal siapa ia. Seperti yang diungkapkan Palahniuk, sosok Keegan, melalui beragam liputan dan artikel yang ramai memenuhi dunia maya seusai tragedi kecelakaan yang merenggut nyawanya, memperlihatkan betapa ia telah secara berani memilih apa yang ia inginkan dalam hidupnya. To be or not to be.

Yale Daily News, tempat dimana Keegan mengasah kemampuan menulisnya semasa berkuliah, menetapkan perempuan muda ini sebagai ´a prolific writer, actress, and activist.´  Tulisan-tulisannya telah dimuat di media internasional seperti The New York Times dan The New Yorker. Kecintaan mendalamnya pada dunia tulis menulis diperlihatkannya saat ´menantang´ penulis Mark Helprin, yang dalam salah satu acara di Yale berkelakar pada para mahasiswa untuk tidak memilih karir sebagai penulis karena kemungkinan untuk tidak sukses pada bidang ini teramat besar (dibandingkan bidang-bidang lainnya). 

Salah satu profesor yang mengenal Keegan, Anne Fadiman, menceritakan pada Yale Daily News ingatannya tentang peristiwa tersebut:

¨I just remember this beautiful, articulate woman standing up and clearly not willing to be cowed by this famous writer, contradicting him, speaking up, declaring her determination to try, declaring her determination to ignore his discouraging words.¨

Bahwa siapapun, apapun dan bagaimanapun caranya, tidak ada satu hal yang mampu membendung Keegan ketika sampai pada persoalan memilih apa yang ia percayai dalam hidup. 

Selepasnya dari bangku perkuliahan, Keegan direncanakan akan memulai karirnya sebagai editorial assistant di The New Yorker pada bulan Juni mendatang. Awal karir yang mungkin selama ini diinginkannya, dan melalui perjalanannya telah ia capai, namun usia tak cukup panjang untuk membiarkannya terus berkarya. 

Tak ada bacaan yang mampu membuat saya terinspirasi oleh perempuan yang lebih muda satu tahun dari saya ini, selain tulisan terakhir karya Keegan untuk Yale Daily News. Membaca tulisannya ini, menyadarkan saya yang pernah selama kurang lebih tujuh belas bulan lamanya berada di dataran Amerika Selatan, dan kembali ke Indonesia dengan persepsi bahwa saya telah gagal. 

Saya tidak melanjutkan karir yang saya rintis sejak dua bulan pasca saya dinyatakan lulus sidang skripsi di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada di bulan Agustus 2010 hingga awal tahun 2012 ini, dikarenakan satu alasan: Saya merasa saya tidak mampu berada disini (Peru dan sekitarnya) lebih lama lagi. Keinginan saya untuk pergi dari Indonesia menuju Peru di akhir tahun 2010 dengan bayangan, ¨I can change the world,¨ ternyata tidak didasari ambisi yang mampu membinasakan rasa takut macam apapun. Dalam perjalanannya, saya meninggalkan semuanya. Saya merasa marah pada sistem yang ternyata tidak sejalan dengan apa yang saya percayai. Saya seakan tidak punya kuasa sedikitpun untuk itu. Saya terus berkubang pada satu titik kesalahan utama saya: terus menerus menyalahkan keadaan.

Saya merasa gagal. Meski di dasar hati saya tetap memiliki begitu banyak sketsa akan inisiatif yang kelak akan saya gagas untuk menghentikan kelaparan dan membantu meningkatkan kualitas pendidikan bagi masyarakat miskin (dua hal yang menjadi concern utama saya dalam bidang pembangunan), seringkali saya tetap merasa: Saya pernah gagal.

Tulisan terakhir sebelum Keegan tertidur selamanya berikut inilah yang membangunkan saya dari ´tidur panjang´ saya sendiri. Dan dengan senang hati, saya akan menampilkannya di bawah berbentuk kutipan-kutipan.

Gagal, sukses, adalah permainan pikiran. Kegagalan yang sebenarnya, kini saya percaya, adalah apabila saya tidak pernah berani memulai. Dengan kepercayaan ini, kini saya mengutarakan pada diri saya sendiri, bahwa kepulangan saya dari Amerika Selatan bukanlah sebuah kegagalan. Saya hanya memilih mundur sejenak untuk maju dengan pergerakan dan misi yang lain. Yang saya percayai akan menjadi jiwa dari kehidupan saya, yang bergema dalam setiap tarikan nafas dan derap langkah saya ke depan. Dunia ini milik mereka-mereka yang yakin pada apa yang dilakukannya. The changemakers, the agent of tomorrow.

Terima kasih Marina Keegan. Rest in Peace :)



From ¨The Opposite of Loneliness¨ by Marina Keegan (Yale Daily News)

¨The best years of our lives are not behind us. They´re part of us and they are set for repetition as we are grow up.¨

¨We have these impossibly high standards and we´ll probably never live up to our perfect fantasies of our future selves. But I feel like that´s okay.¨

¨We´re so young. We´re so young. We have so much time. There´s this sentiment I sometimes sense, creeping in our collective conscious that it is sometimes too late. That others are somehow ahead. More accomplished, more specialized. More on the path to somehow saving the world, somehow creating or inventing or improving. That it´s too late now to BEGIN a beginning and we must settle for continuance, for commencement.¨

¨For most of us, however, we´re somewhat lost in this sea. Not quite sure what road we are on or whether we should have taken it. If only I had majored in ________, If only I´d gotten involved in __________, If only I´d thought to apply for __________. What we have to remember is: WE CAN STILL DO ANYTHING.¨

¨The notion that it is too late to do anything, is comical. It´s hilarious.¨

¨Let´s make something happen to this world.¨


Read the rest here.

03 May 2012

Hanya Pemikiran Sederhana

Tepat kemarin di tanggal dua Mei, Indonesia melewati apa yang disebut sebagai ¨Hari Pendidikan Nasional.¨ Sebuah kebohongan apabila saya menyebutnya sebagai sebuah perayaan, karena memang tak nampak perayaan apapun selama satu hari tersebut. Meski begitu banyak figur yang dikenal di negeri ini mengungkapkan pandangan-pandangannya dalam  akun Twitter mereka masing-masing, namun kesemuanya tak lebih dari opini yang terbataskan oleh aturan 140 karakter ala jejaring sosial tersebut. Sebetulnya apa makna penyebutan ´Selamat Hari Pendidikan Nasional´ apabila tak tampak usaha Pemerintah menyadarkan masyarakat perihal urgensifitas pendidikan itu sendiri?



Saya bukan seorang Anies Baswedan yang melahirkan gagasan brilian ´Indonesia Mengajar,´ yang menunjukkan inisiatifnya sebagai seorang akademisi yang ingin menyuburkan dunia keilmuan  di seluruh pelosok negeri ratusan ribu pulau ini. Saya bukan pula Jacqueline Novogratz yang menggagas berdirinya ´Acumen Fund,´ sebuah lembaga nirlaba dengan tujuan utama mendanai proyek-proyek vital di negara berkembang yang menghubungkan pihak pemilik dana (venture capitalist) dengan masyarakat ´kecil´ dan ragam kebutuhannya. Dan saya juga bukan Ashoka Fellow atau Kiva Fellow, yang dapat berbuat ´sesuatu´ sesuai dengan skema, dana, dan arahan yang telah dibentuk oleh para development experts di dalam jajaran board of directors-nya. Saya ini hanya penyimak dalam makna yang sederhana. 

Saya menyimak pandangan-pandangan menarik yang disajikan dalam rangkaian video di situs TED yang didirikan kurator favorit saya, Chris Anderson. Lewat TED, saya diajak ´berkenalan´ dengan para tokoh yang dalam kesederhanaannya masing-masing,  kesemuanya menyimpan mimpi-mimpi besar untuk membangun pendidikan masyarakat global dengan upaya yang variatif dan tentunya inovatif. Arvind Gupta, memperlihatkan kreatifitasnya menghasilkan beragam permainan edukatif untuk anak-anak yang kesemuanya dihasilkan melalui limbah dan sampah. Tujuannya sederhana: Ia ingin membantu mengurangi jumlah sampah yang banyak ditemukan di sekitar lingkungannya tinggal, dan sekaligus menghadirkan gairah belajar yang lebih besar di kalangan anak-anak kecil. Atau simak pula sang empunya Microsoft yang telah lama dikenal sebagai salah satu filantropis termasyhur dunia, Bill Gates. Dalam video ini, ia memaparkan pandangannya tentang betapa pentingnya peran guru dalam perjalanan suatu bangsa. Perhatiannya terhadap bangsa-bangsa di Afrika yang dihantui dengan kehadiran beragam penyakit mematikan seperti malaria, disampaikannya dalam presentasi 18 menitnya ini. Ia, dan juga istrinya Melinda, telah menunjukkan pada dunia apa yang kini dikenal sebagai ´capitalists-cum-philantropists.´ Keduanya mendirikan ´The Bill and Melinda Gates Foundation,´ sebuah upaya ambisius yang didasari ´15 guiding principles,´ bertujuan untuk menghadirkan dunia dengan kesejahteraan yang lebih merata bagi semua. Dalam dunia pendidikan, selain menyumbang donasi untuk pembangunan pendidikan di negara-negara termiskin di sahara Afrika, foundation ini juga menjadi penyandang dana terbesar di balik bertahannya situs penyedia pendidikan gratis ternama, Khan Academy.

Berbicara tentang pendidikan, tentu saya tak akan lupa pada sosok Butet Manurung. Dengan keinginan kuat dan rasa sayangnya pada masyarakat pedalaman, ia mendirikan Sokola Rimba, sekolah yang mengajarkan bermacam hal pada anggota suku-suku di daerah yang tak terjangkau pelayanan pendidikan resmi pemerintah Indonesia. Dengan pendekatan antropologis, Butet telah menunjukkan pada saya pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya, bahwa menjadi pendidik tak perlu terafiliasi pada institusi apapun. Apa yang dilakukan Butet adalah jati diri luhur dari pendidik sejati. Mengajar tanpa meminta, membumi dan mengabdi. 

Kini, negeri ini membutuhkan kelahiran Butet Manurung yang lain. Yang tak peduli pada skema yang ada, yang berdedikasi tinggi, dan tak peduli pada tatanan sistem. Saya rasa untuk menghasilkan perubahan, harus diawali dengan pemahaman yang mendalam tentang keadaan yang berjalan. Yang dilanjutkan dengan konseptualisasi mengakar, dan bertujuan menjawab permasalahan yang terjadi di lapangan. Maafkan saya apabila terdengar seperti menceramahi, namun sesungguhnya saya menceramahi diri saya sendiri. Saya harus terus berkata, ¨setelah menyimak, setelah membaca, setelah memperhatikan manusia-manusia yang berdedikasi, apa selanjutnya?¨ 

Mengingat ucapan pemikir, penulis, pemerhati gerakan sosial Amerika Serikat, Howard Zinn, ¨we dont have to engage in grand, heroic actions to participate in the process of change. Small acts, when multiplied by millions of people, can transform the world.¨ Jadi saya berkata pada diri sendiri, ¨mari menjadi pendidik bagi sesama. Satu demi satu, perlahan dalam waktu, namun pasti dalam ambisi.¨ Dan itulah kesadaran saya di Hari Pendidikan Nasional kemarin. Kesadaran yang saya tanamkan dalam hati dan sampaikan dalam tulisan.  Yang semoga, dalam kurun waktu yang tak lama, akan menjadi bagian dari implementasi nyata. 

Namun kembali, sesungguhnya, tulisan ini hanya pemikiran sederhana. Benar-benar sederhana :)

02 March 2012

On Character and Temprament




¨Personality is composed of two fundamentally different types of traits: those of ‘character;’ and those of ‘temperament.’ Your character traits stem from your experiences. Your childhood games; your family’s interests and values; how people in your community express love and hate; what relatives and friends regard as courteous or perilous; how those around you worship; what they sing; when they laugh; how they make a living and relax: innumerable cultural forces build your unique set of character traits. The balance of your personality is your temperament, all the biologically based tendencies that contribute to your consistent patterns of feeling, thinking and behaving. As Spanish philosopher, Jose Ortega y Gasset, put it, ‘I am, plus my circumstances.’ Temperament is the ‘I am,’ the foundation of who you are.¨ - Helen Fisher, in This Will Make You Smarter : New Scientific Concepts to Improve Your Thinking.

13 February 2012

Quote of the day


George Whitman, Paris (Source: The New Yorker)

¨Be not inhospitable to strangers / Lest they be angels in disguise.¨ George Whitman

12 February 2012

You are all a génération perdue


Tidak ada yang tahu bahwa merasa tahu adalah bentuk akan ketidaktahuan itu sendiri. Tidak pula saya hingga pada satu masa saya diperjalankan ke belahan bumi yang lain dan tiba pada satu fase dimana keingintahuan saya akan luasnya dunia, bertemu dengan suatu bentuk kesadaran bahwa saya tidak lebih dari sebuah bagian dari apa yang disebut Gertrude Stein di tahun 1920-an di kota Paris dengan sebutan ¨génération perdue¨ atau ¨lost generation


Gertrude Stein (Image: Google)

Tentunya ada masa-masa dimana saya larut dalam kebanggaan akan apa-apa yang saya rasa saya ketahui melebihi orang lainnya, yang ternyata kini saya simpulkan sebagai sebuah kenyataan bahwa saya tidak lebih dari seorang manusia yang sebetulnya tidak tahu apa-apa melainkan apa yang saya ketahui tersebut. Sebatas itu. Sesempit itu. Ketika saya terbangun di satu malam dan berpikir tentang berapa sesungguhnya jumlah manusia di dunia pada waktu saya berpikir sekarang? Berapa banyak mereka yang masih terbangun menjelang pukul tiga pagi waktu kota Lima ini? Mungkin tidak seberapa banyak, karena asumsi saya pada waktu menjelang pagi lumrahnya kebanyakan manusia sudah berada di peraduannya masing-masing. Mungkin beberapa yang bekerja di malam hari masih terjaga, seperti para petugas keamanan yang merelakan waktu tidurnya demi sedikit rezeki, jauh lebih sedikit dari jumlah yang didapat mereka-mereka yang bekerja ditemani sinar matahari. Atau wanita yang masih berdiri di sepanjang Avenida Arequipa, menunggu calon pelanggan merapat dari kendaraannya masing-masing dan menawar harga untuk memenuhi kebutuhan seksualitas mereka di waktu yang semakin sempit. Atau mungkin petugas pengisi bahan bakar yang membalut diri dengan seragamnya yang tampak seperti membantu mereka terhindar dari terjangan angin malam namun tidak lebih dari sebuah fatamorgana bagi siapapun yang melihatnya karena petugas-petugas tersebut kenyataannya, menderita dalam kebekuan malam menjelang pagi kota Lima. Ah tapi tahu apa saya ini!

Siapa yang tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka yang masih menatap kota di waktu larut seperti sekarang ini? Saya tidak pernah tahu. Namun pentingkah untuk mengetahui itu? Perlukah mengetahui apa yang dipikirkan oleh manusia lain? Pernah saya berada dalam suatu masa dimana saya beranggapan, ¨mengerti dan memahami cara berpikir orang lain adalah suatu bagian dari menjadi seorang manusia dewasa.¨ Namun pentingkah mengerti dan memahami orang lain? Saya menghabiskan waktu mencoba mengerti pemikiran orang lain ketika semestinya dalam kurun waktu tersebut saya sekiranya dapat mencoba untuk mengerti diri saya sendiri. Terlampau sering berada di antara keramaian, membuat manusia kehilangan kesadaran akan jati dirinya sebagai satu makhluk yang diciptakan dalam kesendirian. 

Saya mulai memikirkan beberapa hal yang perlu saya ketahui, yang sepatutnya saya ketahui dalam kadar yang cukup, hingga hal-hal yang hanya akan menjadi gurauan saya seorang di dalam larutnya malam. Salah satu hal yang memenuhi ketiga faktor pembeda tersebut adalah perihal kehidupan para penulis Amerika di kota Paris pada pertengahan tahun 1920-an. Di kota itu, pada masa yang tersebut kan, para penulis buku legendaris seperti Scott Fitzgerald (The Great Gatsby), Ernest Hemingway (The Sun Also Rises), Ezra Pound (Huh Selwyn Mauberley), hingga James Joyce (yang begitu membuat saya terpukau dengan A Portrait of the Artist as a Young Man), bermukim dan berkawan satu sama lain. Melalui pertemuan-pertemuan singkat di beberapa kedai kopi kota Paris yang ditemani dengan perdebatan dan perbincangan mereka perihal masa depan di dunia literatur, membuat Paris di tahun-tahun tersebut seakan hidup dalam lembayung kecemerlangan intelektualisme.

Hemingway and friends in Paris (Image: From A Moveable Feast)


Saya menenggelamkan waktu, pikiran, hingga khayalan-khayalan akan kehidupan pada masa tersebut melalui enam hari yang saya habiskan untuk membaca ¨A Moveable Feast,¨ sebuah karya Ernest Hemingway yang menceritakan kehidupannya di kota Paris tepat di pertengahan tahun 1920-an. Saya tidak tahu apakah ada yang setuju maupun tidak setuju (saya bahkan tidak tahu apakah ada yang membaca tulisan saya ini), namun keterpukauan saya akan suatu konsepsi kehidupan yang begitu bahagia dalam suatu balutan tekstur ketidakberpunyaan yang dibarengi dengan kekayaan konversasi serta dinamika sentimentalisme tulisan demi tulisan, adalah seakan menolak suatu pemahaman akan hidup milik paham kontemporer masa kini. Saat ini, atau lebih tepatnya sejak bulan November tahun 2010 silam, saya bermukim di kota Lima, dimana makna keberpunyaan cukup saya simpulkan sebagai suatu kemampuan untuk menikmati setidaknya empat cangkir kopi hitam dalam sehari, pastel de acelga atau empanada de carne di pagi hari, satu set makan siang, dan terkadang makan malam yang saya sesuaikan dengan keinginan. Merasa kenyang dalam arti yang sesungguhnya dan merasa kenyang dalam pemikiran (yang saya hadirkan melalui aktifitas membaca dan menulis), adalah pencapaian klimaks akan kemewahan hidup bagi saya yang sendiri di kota ini. Sehingga ´menyaksikan´ cara hidup Hemingway yang menyengsarakan diri dalam hal-hal material selain dunia buku dan gastronomi, tidak membuat saya heran atau terlampau heran.

Hemingway dan Hadley, istri pertamanya, semasa tinggal di kota Paris, hidup dalam apa yang disebut keterbatasan materi paska Hem (panggilan untuk Hemingway dari beberapa orang yang dekat dengannya) memutuskan untuk berhenti total dari profesinya sebagai jurnalis. Meskipun sumber pendapatannya tidak lain dan tidak bukan adalah dari peruntungannya mengirimkan tulisan demi tulisan fiksi ke beberapa editor majalah dan penerbit, namun Hem mengatakan pada Hadley bahwa apapun dan bagaimanapun kehidupan mereka, menikmati wine terbaik di restoran di kota Paris adalah suatu keharusan. Dalam salah satu bagian di dalam A Moveable Feast, Hem menuturkan betapa ia seakan lupa dengan jenis minuman lain selain wine yang selalu menemani waktu makannya. Tanpa dana untuk membeli pakaian terbaik di kota Paris pada masa itu, Hem dan Hadley seakan menciptakan sebuah konsepsi kebahagiaan yang begitu platonic, namun sangat manis untuk disimak oleh saya yang seorang platonis sejati. Ehm! Mereka menikmati makan siang di bawah rindangnya pepohonan yang berada di sekitar sungai Seine, kadang terlelap setelahnya, dan menutup hari dengan saling bermesraan menutup malam. Keduanya membiarkan masing-masing dari mereka hidup dalam kecintaan subyektif terhadap beberapa hal yang saling berbeda satu dengan lainnya, namun pada akhirnya mereka tahu bahwa mereka adalah satu yang saling berpadu. Di dalam ¨Secret Pleasures,¨ masih dari A Moveable Feast, Hemingway menceritakan tentang satu kegemaran yang diciptakannya dengan Hadley, yakni memiliki panjang dan model rambut yang sama. Dalam salah satu perbincangan mereka perihal ide menciptakan potongan rambut yang persis sama, keduanya sampai pada perdebatan tentang bagaimana sekiranya orang lain akan menatap mereka dan ´keunikan´ ini. 

(Hem) : ¨It´s wonderful the way it is.¨
(Had) : ¨I´ll cut yours across now to make the line.¨
(Hem) : ¨Do you think we should?¨
(Had) : ¨Of course. Wasn´t that what we said?¨
(Hem) : ¨It will look sort of funny maybe.¨
(Had) : ¨Not to us. Who are the others anyway?¨
(Hem) : ¨Nobody.¨

Ernest and Hadley (Image: A Moveable Feast)


Dalam kesehariannya, Hemingway memulai hari dengan ditemani café crème di kafe favoritnya yang terletak di Place St Michel, merangkai kata demi kata untuk kemudian mengirimkannya, mencoba peruntungannya di tangan editor demi editor, yang seakan menjadi penentu kehidupan Hem dan Hadley kala itu. Pada masa tersebut, Hemingway belum menghasilkan novel dan masih memusatkan karya tulisnya pada cerita-cerita pendek. Pada pukul tiga, Hem baru akan teringat perihal makan siangnya, hal yang pada satu hari menjadi topik perbincangan antara dirinya dengan Sylvia Beach, pemilik toko buku kesayangan Hemingway di kota Paris yang bernama Shakespeare and Company, yang kerap kali memberi Hemingway kesempatan untuk meminjam baca buku-buku pilihannya tanpa membayar sedikitpun dan membawanya pulang untuk dikembalikan dalam beberapa hari ke depan. Di dalam ¨Shakespeare and Company,¨ yang masih berada dalam A Moveable Feast, Hemingway mengungkapkan Sylvia dengan kalimat, ¨no one that I ever knew was nicer to me.¨ Bagi Sylvia, Hemingway adalah sosok penulis yang dapat dipercayanya, terlepas dari kenyataan bahwa Hem tidak memiliki uang, namun Sylvia mempercayainya dan menganggap Hem seperti sahabatnya sendiri. Seperti ditunjukkan dalam ¨Hunger Was Good Discipline,¨ Hem menggambarkan bagaimana Sylvia mengingatkannya untuk tidak melupakan waktu makan.

(Beach) : ¨You´re too thin, Hemingway. Are you eating enough?¨
(Hem) : ¨Sure.¨
(Beach) : ¨What did you eat for lunch?¨
(Hem) : ¨I´m going home for lunch now.¨
(Beach) : ¨At three o´clock?¨
(Hem) : ¨I didn´t know it was that late.¨
(Beach) : ¨Get home now before it´s too late for lunch.¨
(Hem): ¨They´ll save it.¨
(Beach) : ¨Don´t eat cold food either. Eat a good hot lunch.¨

Ernest Hemingway and friends, in front of Shakespeare and Company, Paris  (Image: Google)


Di tangan Hemingway, suatu keadaan lapar yang di dalam bahasa Indonesia apabila dirangkaikan dalam satu kata (kelaparan) akan menjadi suatu paradoks akan imajinasi orang kebanyakan perihal kota Paris dimana kehidupan adalah suatu keindahan yang biasa dibahasakan dengan C´est la vie, saya mendapat kesan bahwa merasakan lapar di dalam dunia seorang Hemingway adalah merupakan suatu kenikmatan, atau bahkan apabila terkadang ia terkesan mengeluhkannya, hal tersebut terlihat sebagai keluhan yang sekedarnya. Keluhan bagi Hemingway adalah apabila Ia terpisahkan dari lembaran kertas dan pena, yang sekiranya adalah merupakan pilihannya akan substitusinya bagi nutrisi.

Paris di tahun 1920, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ernest Hemingway di dalam A Moveable Feast adalah suatu pelarian imajinatif bagi saya yang merasa semakin terperangkap dalam dogmatisasi di kehidupan nyata masa kini. The iPad generation adalah berbeda dengan the literary generation di masa Hemingway, Pound, Joyce, Fitzgerald, dan penulis lainnya di kota Paris. Kini, intelektualitas secara umum diejawantahkan dalam kesempatan menduduki bangku sembari menanti gelar. Sedang di masa Paris 1920, kesederhanaan pemikiran dan kelincahan pena menari di atas media, adalah sebuah definisi dan kebahagiaan  adalah ´rasa,´ dimana dewasa ini kata bahagia diselaraskan dengan ´citra.´ 


Hemingway´s A Moveable Feast


Gertrude Stein, salah satu sahabat bertukar pikiran Hemingway di kota Paris pada masa itu, mempopulerkan sebutan ¨génération perdue¨ atau ¨lost generation,¨ sebagaimana diceritakan Hemingway dalam ¨Une genération perdue¨ dalam konversasi singkat mereka sebagai berikut:

(Stein) : ¨That´s what you are. That´s what you all are. All of you young people who served in the war. You are a lost generation.¨
(Hem) : ¨Really?¨
(Stein) : ¨You are. You have no respect for anything. You drink yourselves to death.¨

Membaca Hemingway dalam A Moveable Feast merupakan sebuah pelarian imajinatif saya untuk mentertawai diri sendiri. Pernyataan Stein yang menunjuk generasi Hemingway sebagai generasi yang hilang, semakin membuat saya mentertawai diri sendiri. Hemingway dan generasinya adalah mereka-mereka yang selamat dari era perang, seperti Hemingway sendiri yang terluka dan dikirim pulang ke Amerika pada tahun 1919. Dan terlepas dari fakta tersebut, Gertrude Stein menyebut generasi Hemingway (yang lebih muda darinya), sebagai generasi yang hilang. 

Saya kini memejamkan mata dan membayangkan Gertrude Stein, Ernest Hemingway, mungkin ditemani Scott Fitzgerald, Ezra Pound, James Joyce, mungkin pula beserta Ford Madox Ford, duduk bersama saya di satu kedai kopi di Place St Michel. Malam hari, saya memilih  Café au lait , sedangkan Scott (yang digambarkan Hemingway selalu dalam keadaan setengah mabuk atau mabuk sepenuhnya) dengan wine pilihannya, Hemingway dengan white wine, dan yang lain dengan minumannya masing-masing. Seakan-akan saya adalah penjelmaan dari Gil Pender, tokoh utama dalam ¨Midnight in Paris¨ karya Woody Allen yang termasyhur itu, saya membayangkan apa yang akan terjadi kemudian. 

Ah, Paris di masa kejayaannya. Namun bukankah Paris akan selalu dicinta? Setidaknya Hemingway menyiratkan kesan itu. Menulis, menikmati hari, mencintai hidup dalam bentuk ke-apa-ada-an-nya, saya menyelinapkan diri pada bayangan akan Paris di masa itu, di masa Hemingway masih belum sampai pada keputusannya untuk mengakhiri hidup dengan peluru pilihannya di tahun 1961. Ah Hemingway....

¨If you are lucky enough to have lived in Paris as a young man, then wherever you go for the rest of your life, it stays with you, for Paris is a moveable feast.¨