18 July 2013

Marissa Mayer








¨I always did something I was a little not ready to do. That feeling at the end of the day, where you´re like, ´where have I gotten myself into?´ I realized that sometimes when you have that feeling and you push through it, something really great happens.¨ -CNN

21 February 2013

Memandang kritik akan paham kebebasan melalui sudut pandang seorang Rafael Correa


¨(Proses) pembangunan adalah laksana pelayaran kapal dengan jumlah kehancuran yang lebih besar dibandingkan para penunjuk arahnya.¨ 

Kutipan dari buku termasyur milik Eduardo Galeano, ´Open Veins of Latin America´ tadi sepertinya menjadi semacam ´pegangan´ bagi presiden Ekuador yang baru saja memenangkan pemilihan umum untuk ketiga kalinya, Rafael Correa. 

Dengan catatan 60% suara pemilih, Correa jelas-jelas membuktikan bahwa Ia tidak ingin hancur dan tersungkur. Dengan satu kali lagi kemenangan, Correa telah memastikan bahwa dirinya adalah penunjuk arah daripada ´kapal´ bernama Ekuador, yang telah dinakhodainya sejak tahun 2007 silam. Dan bagi seorang Rafael Correa, pembangunan adalah juru kunci keberhasilannya memenangkan posisi sebagai nakhoda yang bertahan. Ia terpilih karena telah berhasil membangun bangsanya, dengan caranya.

Di saat begitu ramainya gerakan yang dilakukan pemimpin-pemimpin Asia Tenggara dalam memanfaatkan paham liberalisasi ekonomi di segala aspek pertumbuhan bangsa, Correa memperlihatkan manuver yang sangat berbeda. Ironisnya, data Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang dikutip harian The Guardian menunjukkan: Kebijakan Correa telah berhasil menurunkan rasio kemiskinan Ekuador sebesar 32,4%. Mengapa ironis? Karena hasil tersebut didapatkan bangsa Ekuador bukan melalui kepemimpinan ala Obamanomics atau yang dipersekutukan para pengikut Milton Friedman dan Hayek yang selama ini dibenarkan oleh para pengamat ekonomi barat dan juga kroni-kroni media.

Kekayaan individu tidak dipandang sebagai parameter mengukur kekayaan bangsa. Correa tidak akan menciptakan keadaan si 1% melawan si 99% laksana kondisi global saat ini. Ia menciptakan pemerataan peruntukkan hasil ekonomi Ekuador, dari tanah bangsanya untuk seluruh anak bangsanya sendiri. Correa secara gamblang mengungkapkan pandangannya akan hal tersebut dalam pidato kemenangannya, dimana ia berujar, ¨We are only here to serve you. Everything for you, a people who have become dignified in being free.¨

Correa seakan mengerti bahwa bahkan masyarakat miskin pun berhak atas harga diri. 

Dan sebagaimana yang dipercayai Marx, Correa mengerti bahwa ¨(manusia) mendapatkan posisinya dalam kolektifitas sosial.¨ Ia tidak mengukur kekuatan ekonomi bangsa Ekuador melalui besaran tingkat konsumsi kelas menengah ke atas, melainkan dari pemenuhan kebutuhan seluruh warga tanpa terkecuali.

Paham perdagangan bebas, penyembahan pada demokratisasi, pemberian hak tanpa batas kepada para investor asing, pembenaran atas tak terbatasnya peluang perusahaan asing melakukan kegiatan pengerukan sumber daya alam, serta jalinan persahabatan erat dengan pemimpin negara maju, dipandang Correa sebagai pilihan yang tak absolut dalam hal proses membangun negara. Ia menerapkan kebijakan-kebijakan yang berkebalikan. 

Correa menyediakan akses mudah bagi seluruh warga negara Ekuador terhadap pendidikan dan layanan kesehatan, yang didapat melalui penambahan jumlah dana belanja negara. Ia tidak membagi kedua arena vital tersebut pada pihak swasta/privat. Begitu pula halnya dengan pemanfaatan sumber daya alam. Correa meminta penyusunan ulang kontrak karya perusahaan asing yang mengelola dan menguasai lini pemanfaatan hasil sumber daya alam Ekuador, dimana pemerintah (sebagai wakil dari seluruh bangsa Ekuador) tetap pemegang saham terbesar.

Peperangannya pada insan media Ekuador, dipandang oleh organisasi pembela hak asasi sebagai suatu kejahatan terhadap kebebasan berpendapat. Dokumen yang dirilis organisasi Human Rights Watch pada tahun 2011 menyatakan Presiden Rafael Correa telah secara jelas melakukan penyuburan pada kegiatan pembatasan hak jurnalis dalam melaporkan kebenaran. Terdapatnya elemen klausula ´desacato´ atau ´lack of respect´ dengan ancaman sanksi pidana tiga bulan hingga dua tahun, yang termuat di dalam kitab undang-undang hukum pidana Ekuador, dipandang sebagai peringatan tajam yang diperlihatkan Correa pada siapapun yang menujukan kritik terhadap kebijakan sang presiden. 

Ketidaksepahamannya dengan insan media dalam negeri, tidak cukup untuk menjadikan Correa sebagai bulan-bulanan para pemimpin negara barat. Keputusannya untuk melindungi Julian Assange, sang pendiri Wikileaks, dari ´kejaran´ pemerintah Inggris dan Swedia sejak bulan Agustus 2011, semakin mengukuhkan posisi Correa sebagai pemimpin yang tak sejalan dengan para pemimpin negara maju.

Terlepas dari segala pemberitaan media-media besar yang selalu menyudutkannya sebagai seorang pemimpin, Rafael Correa telah sekali lagi berhasil menunjukkan ironi yang mencengangkan tentang negara dengan paham anti kapitalisme, yang selama ini selalu dipandang sebagai negara miskin luar biasa yang terperangkap dalam alur kesengsaraan  tanpa adanya peluang atas perubahan. 

14 juta lebih rakyat Ekuador memilihnya kembali dalam kali ketiga, dan fakta tersebut bukan tak menyimpan arti.  

Arti kemenangan Correa yang sulit dimengerti para pemerhati politik dan ekonomi yang tak sepaham dengan Correa itu dapat dibahasakan dengan kisah lama dari negara tetangga, yakni milik jenderal Pedro Ferre, salah seorang perwakilan provinsi Corrientes di Argentina, yang diungkapkannya pada masa penjajahan di tahun 1830 seperti yang dikutip Sergio Bagu tahun 1949 dalam ´Economia de la sociedad colonial: ensayo de historia comparada de America Latina,´ berikut ini:

¨Yes, certainly a few wealthy men will be deprived of fine wines and liquors with their dinners. For the less well-off classes the differences will hardly be noticeable in the wines and liquors they now drink, only in the price, and consumption will go down, which is not a bad thing. Our country folk won´t wear English ponchos or carry British-made bolas and lassos; we won´t get clothing, and other things we can make ourselves, from abroad; but on the other hand, the condition of all the Argentine communities will begin to be less miserable and the frightful poverty to which we are now condemned will no longer pursue us.¨

Correa adalah pemimpin Amerika Latin yang dididik di bangku perkuliahan Amerika Serikat, namun mengerti letak perbedaan kebutuhan anak bangsanya dari penduduk negara lain. Ia menciptakan sistem pemerintahannya sendiri, bukan mengadopsi, terlebih menodai dengan menyembah sistem yang disuburkan para oligarkis. Seperti yang dipercayai Baruch Spinoza, ¨To understand, is to be free.¨ Maka untuk mengerti yang dibutuhkan oleh penduduk Ekuador, Correa membebaskan negaranya dari dikotomi-dikotomi. Membebaskan negaranya dari bentuk penyembahan-penyembahan, karena Ekuador adalah bangsa, bukan hamba sahaya.

Congratulation, Correa. Congratulation Ecuadorians. 
For your own version of freedom.


Depok, 21 Februari 2013.


ps: Tulisan ini terinspirasi dari tulisan milik @SeumasMilne yang dimuat The Guardian dengan judul, ¨Think there´s no alternative? Latin America has a few,´ tertanggal 19 Februari 2013. 

30 September 2012

On Writing and Being an International Correspondent, William Langewiesche



William Langewiesche - International Correspondent
of Vanity Fair

 (From Media Bistro´s interview with the American writer):

I, being young and naive myself, left my job and began to fly airplanes and to write, always writing. I wrote a bunch of stuff that was not published, and I continued to struggle. My goal was never to become a pilot. My goal was to, well, become exactly what I am now, interestingly enough. I failed at that for many years, but I was lucky because I had a skill which allowed me to stay dry when it rained.

I knew that there was this magazine world in New York, with lots of slick magazines, and I knew that I did not want write for those guys, so I never approached them. I thought I would rather fly airplanes than do that. I dont know why I had a strong aversion to it. I wanted to write serious stuff, long stuff, not fast stuff. I wanted to write with quality, both quality of thought and literary quality, and I knew I could not do that in that world.

One of the reasons my writing was not good enough when I was 25 years old was that my thinking was not good enough. One of the reasons my thinking was not good enough was that I was not old enough. I did not have enough experience. Why would a reader, a mature reader, an intelligent reader want to read the work of a 25-year-old at least on serious subjects? 

I try to understand what I´m seeing. There´s a stage I go through when I´m rubbing my eyes, and I can´t understand this world that I´m in now. I feel like I dont understand anything. I cant see anything. I start asking questions, and then I very much listen to people. I listen to people very carefully. When I´m on the ground, I´m working anywhere from 12 to 16 hours a day.

Writing is thinking. Writing is a form of thought. 

The real work is not done in places like Kinshasa or on the ground. The real work is done outside. What you are doing on the ground is trying to provide yourself with the resources  necessary to think about the subject clearly later on.

For complete interview, here.

19 September 2012

I´ve killed my TV

Manifesto 2010 (Source: Google)


Ever since I began to live in another part of the globe until I went back home with new perspective in life (including months allocated for reasonable hiatuses of thought), I´ve killed my TV. 

No kidding, I own none of that boxes since I finished college (2010), and never want to have it back in my life, again. Not that I dont want to correspond with the world through moving pictures, reportages, or a seemingly infinite number of fake faces, but I just have fallen in love deeper than ever to the world wide web. Plus, I take lots (more) advantages from the internet. 

I found the breaking news about some major world headlines (Bin Laden´s assasination, Assange´s hide and seek story on Ecuador´s embassy in London, or Kim K´s stupid-fake-days of marriage drama) from the internet first, not TV. Sorry for classifying Kardashian´s ironic incident to ´major world headlines,´ folks!

So sorry television. Sorry Philo Farnsworth.

But then what happened yesterday afternoon, was somehow revealing the long-time broken relations between me and the TV. Oh no, wait, it´s the media!

Short story: I went back to my place around 3pm, and a dorm-mate of mine greeted me with minutes of chit-chats about random stuffs. Then she invited me to come to her room where she had her TV on, showing us the infotainment (that´s how they call ´the show about the show off celebrities´) with the grand topic of the day : ¨The life of Jakarta´s Socialites Women.¨

First, I dont have any personal issue with social butterflies named ´socialites´ whatsoever. Well in truth, I had never even cared about their existence. In my opinion, even Margherita Missoni is indeed just a same human like another woman, like me. Well, we´re speaking about the very basic composition of human being, don´t we?

What strikes me the most from the show was nothing but one thing only: The overbearing pride evidenced by a superior manner from those 30 (or 40)-something self-acclaimed socialites. By telling the stories about how they regularly have ´arisan´ every month with 10 millions rupiah obligated to pay by each member (they have 30 members, fyi), or their love for diamonds, for the love of God, and their picture perfect brouhaha yacht private party in north Jakarta (Ancol) where these women amuse themselves with their laughs and never ending camera flashes on their sailor look alike costumes. 

Then here comes the ´important´ part of the show. The socialites stories about millions of millions prices of Hermes bags they bought, Chanel earings they purchased while vacationing in Paris, their Charlotte Olympia´s heels, and of course, their prideness for being a wife of public sector executives or business tycoons.

Sometimes it only takes a few seconds to hate a person. To label that person with such personal name like ´a total loser,´ ´a pain in the ass,´ et cetera, et cetera. 

For me, it´s way beyond that cheesy comments. It´s all about the missing link between the TV and the media provider. I  know there are different layers/segments of audiences out there in the real entertainment world. There are those who love news and news only, or those with tissue for tears during their TV series´ night time. Or those with sports and stuffs, and other more of them.

I think what I´d like to emphasize here, is as same as the statement I found on ´Freunde von Freunden´ journal: 

¨Immersion, interactivity, integration, impact, as discussed by media scholars and philosophers such as Vilem Flusser, Alexander Kluge and Niklas Luhmann since the last 60s, non-linear storytelling through hypermedia emphasized the reader´s role in the process of media consumption.¨

The role of storytelling, I believe is the most important role of TV media. There´s a thing called responsibility in an action of providing civil society with educating, curating the right words of choice for the show, because at some point most of the people would be weak in choosing. What they see is what they get in mind. And please, do not forget kids and their immitating acts. 

Showing the world about the abundance of wealth possesed by some spesific groups of people, is not a sin. In fact, I agree, it´s what information is all about. To spread words about the real pictures in life. 

Yes there are those who live with less than 2 dollars, and yes there are those who could spend 10.000 dollars for a day. It´s something we should realize and simply just accept the fact like the way it is. Not big deal.

But, what I would like to say to the TV media is nothing like a shallow critic from someone who live with freelance fee (ehem). Here´s what I want to say:

¨Dear media tycoons. With your money, with your strong ties to the ruling government, with your love for profits, with your power to reach talented talents around this country, with your ´act like you care for developments´ through your corporate social responsibility, and with your time for political participation in various parties, please try (even if it´s hard) to be your very own smart editor. Please curate your show. There are thousands-millions even-creative people in this world who´d love to work on that field (smart media movement). If you can´t help yourself from trashing people with trashy entertainments, just think of your kids and their future. At least.¨

Until then, I´ll be okay with no TV.

31 May 2012

Thanks, Keegan :)


¨You have a choice. Live or die. Every breath is a choice. Every minute is a choice. To be or not to be¨ -Chuck Palahniuk

Ini lah semacam sebuah pengakuan : Saya tidak pernah membaca buku karya Palahniuk, not even once. Namun saya penggemar pandangan-pandangannya menyoal hidup dan mati. Salah satunya adalah yang saya jadikan pembuka dari tulisan blog saya kali ini. 

¨Setiap manusia memiliki pilihan. Untuk hidup atau mati.¨

Saya percaya arti kata-kata tadi melebihi sekedar memilih untuk tetap hidup atau bunuh diri karena beragam alasan. Meski terkadang, di saat-saat terlemah, saya cenderung setuju dengan ungkapan termasyhur dari tokoh pergerakan Universitas Indonesia, Soe Hok Gie, ¨nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan,¨ namun pada akhirnya saya menyimpulkan: Soe dan setiap manusia yang menolak kehidupan, tak lain adalah mereka-mereka yang memilih menyerah. Dan dewasa ini, menyerah bahkan tak lagi menjadi suatu pilihan. 

Tulisan ini terinspirasi dari berita tewasnya mahasiswi Yale, Marina Keegan, 22 tahun, yang tewas dalam kecelakaan beberapa hari seusai upacara kelulusannya dari jurusan writing di salah satu perguruan tinggi Ivy League, berlokasi di New Haven tersebut. Ia dinyatakan tewas di tempat beberapa saat setelah mobil Lexus yang dikendarai kekasihnya menabrak sisi kanan pembatas jalan di Massachussets. 

The inspiring young Marina Keegan

Berita duka seperti ini mungkin dapat kita baca dan lihat di ragam media setiap saat. Manusia lahir dan berpulang hampir dalam kisaran setiap detik. Semacam kelumrahan yang telah menjadi bagian dari takdir alam. 

Namun berita duka tentang Keegan mengajarkan banyak hal, bahkan pada saya, yang terentang jarak dan tidak pernah sekalipun mengenal siapa ia. Seperti yang diungkapkan Palahniuk, sosok Keegan, melalui beragam liputan dan artikel yang ramai memenuhi dunia maya seusai tragedi kecelakaan yang merenggut nyawanya, memperlihatkan betapa ia telah secara berani memilih apa yang ia inginkan dalam hidupnya. To be or not to be.

Yale Daily News, tempat dimana Keegan mengasah kemampuan menulisnya semasa berkuliah, menetapkan perempuan muda ini sebagai ´a prolific writer, actress, and activist.´  Tulisan-tulisannya telah dimuat di media internasional seperti The New York Times dan The New Yorker. Kecintaan mendalamnya pada dunia tulis menulis diperlihatkannya saat ´menantang´ penulis Mark Helprin, yang dalam salah satu acara di Yale berkelakar pada para mahasiswa untuk tidak memilih karir sebagai penulis karena kemungkinan untuk tidak sukses pada bidang ini teramat besar (dibandingkan bidang-bidang lainnya). 

Salah satu profesor yang mengenal Keegan, Anne Fadiman, menceritakan pada Yale Daily News ingatannya tentang peristiwa tersebut:

¨I just remember this beautiful, articulate woman standing up and clearly not willing to be cowed by this famous writer, contradicting him, speaking up, declaring her determination to try, declaring her determination to ignore his discouraging words.¨

Bahwa siapapun, apapun dan bagaimanapun caranya, tidak ada satu hal yang mampu membendung Keegan ketika sampai pada persoalan memilih apa yang ia percayai dalam hidup. 

Selepasnya dari bangku perkuliahan, Keegan direncanakan akan memulai karirnya sebagai editorial assistant di The New Yorker pada bulan Juni mendatang. Awal karir yang mungkin selama ini diinginkannya, dan melalui perjalanannya telah ia capai, namun usia tak cukup panjang untuk membiarkannya terus berkarya. 

Tak ada bacaan yang mampu membuat saya terinspirasi oleh perempuan yang lebih muda satu tahun dari saya ini, selain tulisan terakhir karya Keegan untuk Yale Daily News. Membaca tulisannya ini, menyadarkan saya yang pernah selama kurang lebih tujuh belas bulan lamanya berada di dataran Amerika Selatan, dan kembali ke Indonesia dengan persepsi bahwa saya telah gagal. 

Saya tidak melanjutkan karir yang saya rintis sejak dua bulan pasca saya dinyatakan lulus sidang skripsi di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada di bulan Agustus 2010 hingga awal tahun 2012 ini, dikarenakan satu alasan: Saya merasa saya tidak mampu berada disini (Peru dan sekitarnya) lebih lama lagi. Keinginan saya untuk pergi dari Indonesia menuju Peru di akhir tahun 2010 dengan bayangan, ¨I can change the world,¨ ternyata tidak didasari ambisi yang mampu membinasakan rasa takut macam apapun. Dalam perjalanannya, saya meninggalkan semuanya. Saya merasa marah pada sistem yang ternyata tidak sejalan dengan apa yang saya percayai. Saya seakan tidak punya kuasa sedikitpun untuk itu. Saya terus berkubang pada satu titik kesalahan utama saya: terus menerus menyalahkan keadaan.

Saya merasa gagal. Meski di dasar hati saya tetap memiliki begitu banyak sketsa akan inisiatif yang kelak akan saya gagas untuk menghentikan kelaparan dan membantu meningkatkan kualitas pendidikan bagi masyarakat miskin (dua hal yang menjadi concern utama saya dalam bidang pembangunan), seringkali saya tetap merasa: Saya pernah gagal.

Tulisan terakhir sebelum Keegan tertidur selamanya berikut inilah yang membangunkan saya dari ´tidur panjang´ saya sendiri. Dan dengan senang hati, saya akan menampilkannya di bawah berbentuk kutipan-kutipan.

Gagal, sukses, adalah permainan pikiran. Kegagalan yang sebenarnya, kini saya percaya, adalah apabila saya tidak pernah berani memulai. Dengan kepercayaan ini, kini saya mengutarakan pada diri saya sendiri, bahwa kepulangan saya dari Amerika Selatan bukanlah sebuah kegagalan. Saya hanya memilih mundur sejenak untuk maju dengan pergerakan dan misi yang lain. Yang saya percayai akan menjadi jiwa dari kehidupan saya, yang bergema dalam setiap tarikan nafas dan derap langkah saya ke depan. Dunia ini milik mereka-mereka yang yakin pada apa yang dilakukannya. The changemakers, the agent of tomorrow.

Terima kasih Marina Keegan. Rest in Peace :)



From ¨The Opposite of Loneliness¨ by Marina Keegan (Yale Daily News)

¨The best years of our lives are not behind us. They´re part of us and they are set for repetition as we are grow up.¨

¨We have these impossibly high standards and we´ll probably never live up to our perfect fantasies of our future selves. But I feel like that´s okay.¨

¨We´re so young. We´re so young. We have so much time. There´s this sentiment I sometimes sense, creeping in our collective conscious that it is sometimes too late. That others are somehow ahead. More accomplished, more specialized. More on the path to somehow saving the world, somehow creating or inventing or improving. That it´s too late now to BEGIN a beginning and we must settle for continuance, for commencement.¨

¨For most of us, however, we´re somewhat lost in this sea. Not quite sure what road we are on or whether we should have taken it. If only I had majored in ________, If only I´d gotten involved in __________, If only I´d thought to apply for __________. What we have to remember is: WE CAN STILL DO ANYTHING.¨

¨The notion that it is too late to do anything, is comical. It´s hilarious.¨

¨Let´s make something happen to this world.¨


Read the rest here.