13 April 2011

Persepsi Mengenai Keberadaan "Ley 1492" di Kolombia


Berhentilah memandang Kolombia (hanya) sebagai pasar narkotika dunia meskipun The Revolutionary  Armed Forces of Colombia (FARC) masih terus berjaya lewat penyelundupan kokain di negara ini. Setelah Juan Pablo Montoya kehilangan kedigdayaannya di arena balap formula satu, kini muncul cara baru untuk memandang negara yang terletak di bagian utara kawasan regional Amerika Selatan ini, yakni lewat Undang-undang Ketenagakerjaan yang disahkan oleh Kongres Kolombia pada akhir Desember tahun 2010 silam.

Undang-undang Ketenagakerjaan yang dinamakan "Ley 1492" atau "la ley de formalizaciĆ³n y generaciĆ³n de empleo" ini merupakan bentuk terobosan baru yang dihasilkan pemerintahan Presiden terpilih pada Agustus 2010 lalu, Juan Manuel Santos Calderon (Mantan Menteri Perdagangan Asing, mantan Menteri Keuangan, dan sekaligus mantan Menteri Pertahanan dan Keamanan Kolombia dalam beberapa periode kepresidenan Alvaro Uribe).

Tujuan utama dari pengesahan Ley 1492 adalah untuk mengeliminir penyebaran jumlah pengangguran usia muda (15 hingga 24 tahun) di Kolombia yang pada tahun 2010 mencapai angka  persentase sebesar 24%. 


Lebih spesifik di dalam Ley 1492 disebutkan perihal 2 (dua) strategi dasar yang diambil Pemerintah guna mengurangi angka pengangguran usia muda tersebut, yakni:

1. Mendorong generasi muda berusia di bawah 28 tahun untuk membentuk perusahaan mandiri yang didukung oleh pinjaman lunak dari negara;

2. Memberikan potongan fiskal bagi perusahaan yang mempekerjakan generasi muda usia kerja.

Kebijakan ini harus diakui merupakan salah satu bentuk kepedulian kongkret pemerintahan Santos dalam upayanya meningkatkan mutu hidup tenaga kerja muda Kolombia. Namun sebagaimana halnya dengan kebijakan publik setiap pemerintahan, kebijakan pemerintah Kolombia yang satu ini juga tidak dapat dilepaskan dari hal-hal yang dalam beberapa aspek patut dikritisi.

Sebagai negara Amerika Latin yang turut merasakan dampak krisis ekonomi regional pada tahun 2009 silam, Kolombia patut merasa bangga atas peningkatan pendapatan negara sebagaimana yang ditunjukkan dalam data yang dipaparkan International Monetary Fund (IMF). Dalam publikasinya yang berjudul "World Economic Outlook (WEO) 2011", IMF memperlihatkan GDP Kolombia yang berada pada skala 4.3% di tahun 2010, dan  diproyeksikan di tahun 2011 akan mengalami peningkatan menjadi sebesar 4.6%

Pertanyaan yang terlintas berikutnya adalah mengenai kesanggupan Pemerintahan Santos menempatkan generasi muda usia kerja siap pakai tersebut pada industri nyata. Hal ini melihat kembali beberapa kasus ketersediaan tenaga kerja (pencari kerja) dalam pasar bursa kerja, yang tidak direspon secara positif oleh korporasi yang mana merupakan bidikan utama bagi para pencari kerja itu sendiri.

Sebagai contoh, di Jepang, negara yang keterpurukan ekonominya acapkali disebut dengan "Japan's bubble economy", para pencari kerja mengalami kesulitan dalam mencari peluang kerja. Data yang dirilis pada akhir tahun 2010 oleh Kementerian Kesehatan, Kesejahteraan, dan Ketenagakerjaan Jepang (Ministry of Health, Welfare, and Labour) memang menunjukkan penurunan jumlah persentase pengangguran pada tahun 2010 sebesar 0.3% dibandingkan pada tahun 2009. Namun di lain pihak, muncul ketidakseimbangan antara jumlah lowongan kerja dengan aplikasi kerja yang diajukan para pencari kerja (Source: The Japan Press).

Titik dimana tidak bertemunya jumlah pencari kerja dengan peluang kerja inilah yang akan mampu menghasilkan "hidden employment" dan selanjutnya, "unemployment"

Dalam hal ini di Kolombia, kemungkinan terciptanya "hidden employment" akan semakin besar apabila usaha pemerintah 'hanya' sebatas menghasilkan Undang-undang yang ditujukan guna mendorong kreatifitas generasi muda dalam membentuk perusahaan dan terlebih memberikan 'diskon' fiskal pada perusahaan. Poin terakhir akan lebih menjadi sekedar 'bonus' yang ditawarkan Pemerintahan Santos bagi Perusahan itu sendiri, bukan sebagai sebuah kewajiban.

Kecenderungan yang menjadi tren di kalangan generasi muda global kini adalah lebih kepada proses pencarian kerja pada korporasi-korporasi bonafit yang diharapkan selain mampu memberikan pendapatan dengan jumlah besar, juga kelak akan menambah daftar profesionalisme mumpuni dalam curriculum vitae nya. Kekuatan CV dalam pasar kerja dewasa ini turut mendorong terciptanya polemik dimana CV menjadi 'rapor' utama, mengalahkan pentingnya kemampuan nyata si pekerja.

Perusahaan, dalam hal ini korporasi besar yang menjadi destinasi utama para pencari kerja usia muda, memberikan porsi yang lebih besar bagi pencari kerja dengan pengalaman dan tingkat pendidikan yang tinggi. Poin-poin yang suka tidak suka harus diakui, tidak begitu mampu meliputi generasi muda di Kolombia secara garis besar. Terlebih setelah privatisasi sektor pendidikan merambah negara ini dengan peran dari The World Bank, masyarakat miskin Kolombia semakin kesulitan memberikan kesempatan pada anak-anak mereka untuk mengenyam bangku pendidikan.

Dalam data dari CIA World Factbook, kemiskinan di Kolombia pada tahun 2010 mencapai angka persentase  sebesar 46,8%, mengalami perbaikan sebesar 4,88% dibandingkan pada tahun 2009. Isu kemiskinan ini akan menjadi kendala utama bagi Pemerintah dalam mendorong generasi muda untuk memulai dari awal sebuah Perusahaan berskala kecil dan menengah.

Dalam poin ini, keberadaan Ley 1492 yang ditujukan untuk mendorong partisipasi generasi muda sebagai penyedia lapangan kerja bagi sesamanya dengan jalan membuka perusahaan yang dibantu oleh pinjaman lunak dari Pemerintah, sepatutnya dipandang dalam kacamata yang lebih luas. Kapabilitas si generasi muda itu sendiri akan lebih mengalami peningkatan apabila Pemerintahan Santos dalam hal ini turut andil menyediakan pelatihan dan pengarahan mengenai bidang lapangan kerja mana yang sebaiknya dibidik oleh si pencari kerja.

Bagaimanapun, dua jempol tetap patut diacungkan untuk usaha para legislator di Kolombia  yang mendukung terciptanya kualitas hidup yang lebih baik bagi generasi muda di negara ini. Di tengah isu perdagangan ilegal dan penyelundupan senjata serta narkotika, pemerintahan baru Kolombia di bawah kepemimpinan Juan Manuel Santos berhasil menunjukkan perhatiannya pada generasi yang paling memegang peranan terhadap masa depan dari sebuah bangsa, yakni generasi muda. Implementasi nyata tampaknya menjadi tantangan bagi Santos berikutnya.

2 comments:

Bluegreen Kirk said...

I visited your blog from a link on Adventuorous Kate but I can actually read it. Looks like a nice site though.

Ayunda Tafsa Afifa said...

Hey, many thanks for the visit. You meant you can't read my last post because it's in Indonesia language? I write several others in English, feel free to look :)